BAB I
INDIKATOR KERUNTUHAN
JURNALISME
A. Jurnalisme Bias
Kunci utama
keberhasilan kepemimpinan−−dalam bentuk dan level apapun− adalah perbuatan
bukan sejumlah orasi, segepok konsep, atau segenap perintah. Selain itu
memiliki kepemimpinan yang transformatif. Secara singkat kepemimpinan
transformatif adalah kepemimpinan yang mentraformasikan sikap, gagasan, dan
perilaku; kepemimpinan yang memberi rakyta atu bawahannya inspirasi. Yang
dicontohkan dalam buku ini adalah jokowi yang menerapkan gaya kepemimpina seperti
itu. Hal ini terbukti jokowi menjadi oase ditengah-tengah kelelahan masyarakat bawah. Dan ini lah yang
dikatakan journalism bias dimana juga tidak terpengaruh oleh wacana lisan dan omong besar
seperti pejabat yang lain.
TAK
KRITIS
Menurut teori jurnalistik, unik dan
memiliki keluarbiasaan merupakan dua poin dari nilai berita. Dalam buku ini
mengambil contoh dari kebijakan seorang Jokowi dimana semua mengatakan setuju.
Padahal dari sudut jurnalistik penderitaan, deskripsi, atau statement dari
objek/penderita jauh lebih menarik daripada mengambil kebijakan. Dalam konteks ini bius keunikan dan kehebatan
menimbulkan bias media. Bias dalam jurnalisme berarti ada pengaruh kepentingan
yang menjadi latar belakang peliputan seseorang. Dan itu dapat menimbulkan media
akan besikap tidak adil kemudian meninggalkan karakter kekritisnya dan juga
lupa fungsi utamanya sebagai kontrol terhadap kekuasaan.
- Jurnalisme
dan ‘Amplop Besar’
Percepatan dan kecepatan sudah merasuk
ke semua aspek kehidupan manusia, termasuk berita dan jurnalisme. Ini menyeret
jurnalisme ke dalam kompetisi global dan kapitalisme. Berita sebagai unsur atau
pilar pokok atau inti dari jurnalisme menjadi komoditas. Ia hanya sebagai alat
untuk menghasilkan keuangan. Bukan lagi sebagai memproduksi wacana yang
mencerahkan kehidupan. Disini wartawan harus terus berproduksi karena tuntutan
pemodal. Tidak dilihat dari segi bagus tidaknya, fakta atau manipulasi
informasi yang terpenting laku dan menghasilkan laba. Inilah yang penulis sebut
dengan amplop besar.
- Jurnalisme
dan budaya copy paste
Dalam konteks kerja sama dan saling
berbagi informasi di lapangan sesama wartawan tidak ada yang salah. Yang menyimpang adalah menulis
berita dengan tanpa usaha kecuali copy paste dari tulisan wartawan lain dengan
hanya mengubah beberapa kata saja.”katanya,” diganti ujarnya dan lain
sebagainya. Budaya seperti ini secara tidak langsung dipengaruhi oleh
percepatan dan kecepatan teknologi komunikasi dan informasi ditambah kini ada
yang dinamakan internet. Dengan demikian berita yang diambil media online atau
situs berita langsung diunggah disitus tanpa peduli dengan validitas.berita
kemudaian berkembang ke arah over-production dan menghasilkan over-information
disisi lain wartawan menjadi malas.
- Jurnalisme pembuat heboh
Sebuah peristiwa atau sebuah realitas
dibuat karena ia terorganis, sistematik, dan komprehensif dengan setting sosial yang ada. Dan jurnalisme itu bisa
dikatakan salah satu faktor
yang menyebabkan sebuah peristiwa bisa banyak orang ketahui.
Kontuksi
Sosial Media Massa
Salah satu pembentukan kontruksi
realitas adalah media massa. Menurut Burhan Bungin terdapat empat tahapan :
penyiapan materi konstruksi , sebaran kontruksi, pembentukan kontruksi
realitas, dan konfirmasi. Dengan demikian, berita sebagai hasil kontruksi media
massa terhadap suatu peristiwa─yang dijadikan acuan khalayak──bukan realitas
yang sebenarnya.
Kontruksi
Berita
Sebuah berita disuatu media merupakan
representasi dari pikiran dan sikap penulis dan asisten redaktur serta editor.
Minimal segala latar belakang budaya, pergaulan, dan pendidikan wartawan sangat
mempengaruhi bagaimaan fakta dikonstruksi dalam sebuah berita. Fakta yang hanya
ditulis apa adanya akan keringnya gaya dan tidak nyaman dibaca. Gaya penyajian
ini pula memuat berbagai warna. Demikian
mulai dari mencari, menemukan, dan mengkontruksi fakta, wartawan sudah
dikontruksi dengan berbagai hal yang tidak netral dan independen. Kemudian
kebijakan redaksi pulah lah yang menentukan
sebuah berita
diambil dari sudut pandang seperti apa.
Era
baru kontruksi media
Kemunculan media akses yang berbasis
internet mempertajam efisen media. Internet memiliki kemampuan untuk memperkembangkan bentuk relasi sosial. Dari
kecepatan akses dan solidaritas jaringan inilah muncul gerakan yang
terduga. Internet bahkan bisa menjadi
media yang mengkontruksi gerakan massa dan kekuatan civil baru. Dalam konteks
ini, kehadiran dan penggunaan internet yang sangat massif dan mengglobal,
penulis memandang sebagai datang era baru.
- Jurnalisme Tanpa Konfirmasi
Kalimat “sampai
berita ini diturunkan yang bersangkutan, telepon tersangka tidak bisa
dihubungi, pesan singkat tidak dibalas, dan email dari redaksi belum dijawab”. Kalimat tersebut dianggap media hari
ini sebagai konfirmasi. Padahal jelas itu bukan konfirmasi, tetapi usaha untuk
konfirmasi. Anehnya, kalimat diatas menjadi kebenaran, doktrin, dan judgement
sebagai konfirmasi. Dalam perkembangannya berita bukan lagi bersandar pada
cover both sides, tetepi sudah cover all sides. Artinya, sebuah berita yang
dimuat media mau tidak mau, suka atau tidak suka harus ada konfirmasi.
Berita
Tanpa Verifikasi
Apa itu verifikasi ? menurut Konvach dan
Rosentiels ada lima item indikator dalam verifikasi fakta, yaitu :
1. Wartawan
jangan menambah atau mengarang apa pun,
2. Jangan
menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsah, maupun pendengar, besikaplah
transparan
3. Sejujur
mungkin tentang metode dan motivasi
4. Bersandarlah
terutama pada repotase sendiri
5. Bersikaplah
rendah hati
Pertanyaannya apakah media melakukan lima item tersebut ?
Bila kita lihat dijaman hari ini masih ada televisi yang menyiarkan berita
tanpa verifikasi fakta. Akibatnya, berita yang diterima masyarakat bukan
realitas yang sebenarnya. Melainkan berita yang menjadi realitas bayangan dan
tidak memiliki jiwa. Yang lebih mengerikan adalah media menyadari hal ini
tetapi mereka terus melakukan berulang kali.
Filter
Konseptual
Menurut teori Aubre Fisher, manusia bisa
menyaring informasi yang diterimanya yang disodorkan oleh media. Pesan yang
diberikan tidak mempengaruhi sikap dan khalayak. Sebab individu memiliki
konseptual untuk menyaring informasi tersebut. Filter tersebut berasal dari
hasil interaksi dengan sesama individu lain dalam bentuk pengalaman yang
dimilikinya.
- Jurnalisme, Adakah Etika ?
Etika jurnalistik──karena hasil kreasi
manusia──masih perlu diperdebatkan, termasuk keberpihakan terhadap kandidat
tertentu dalam kontestasi politik. Bahkan, etika dalam beberapa perspektif
tergantung yang mempergunakan.
Misalnya jurnalismeonline secara kasat mata telah mengubah tradisi jurnalisme
tradisional dimana jurnalismeonline ini mengorbankan akurasi, validasi,
verifikasi, dan kelengkapan suatu berita demi mengejar kecepatan dan kesegaran.
Disisi lain, secara teoritis etika jurnalistik bersifat global, meski
implementasinya di media tradisional menyesuaikan dengan kondisi lokal.
Pertanyaannya, apakah internet yang mengglobal bisa dipilih skala lokal dan
internasional ? secara filosofis, jurnalisme harus tetap berpijak pada prinsip
kebenaran, independensi, check and balance, cover all sides, verifikasi fakta,
dan keberpihakan pada yang lemah. Etika berfungsi untuk menjamin media
memproduksi jurnalisme yang berkualitas dan publik pun mendapat informasi yang
sehat dan mencerahkan.
BAB
II
PENYEBAB
KERUNTUHAN JURNALISME
- Postmodernisme
Alam
pikiran postmodern mengutuk apa pun, tetapi tidak mengusulkan apa pun.
Istilah postmodernisme pertama kali diapungkan
oleh Frederico di Onis pada tahun 1930-an dalam karyanya Antologia de Ia Poesia Espanola a Hispanoamericana.Ia menyebutnya
sebagai kritik terhadap sastra di Amerika Latin dan Prancis. Sejarahwan kondang
Arnold Toynbee menggunakan istilah ini dalam A Brief History. Menurutnya, fase postmodernisme ditandai dengan
gejolak, perang, revolusi yang menimbulkan anarki, runtuhnya rasionalitas, dan
pencerahan.
Masyarakat Postmodernisme adalah
masyarakat yang secara finansial, pengetahuan, relasi, dan semua prasyarat
masyarakat modern terlampaui. Artinya gejala postmodernisme muncul diberbagai
belahan dunia jika masyarakatnya sudah memiliki keterpenuhan material, namun ia
kering dari sudut kekayaan batin seperti dikemukakan oleh Burhan Bungin.
Kemunculan
gerakan seperti new age ,child of god,
dan merebaknya sekte spiritualitas merupakan salah satu indikasi kemuakan
terhadap dunia materi yang diagung-agungkan modernisme.Singkatnya latar
belakang kemunculan postmodernisme dipicu modernisme yang menyimpan kebobrokan
akut, dimana keburukkan tersebut terbongkar dan disebarluaskan oleh media.
Gejala
Postmodernisme
Postmodernisme adalah gelombang kritik paling mutakhir terhadap modernisme yang
menjadikan sains, rasionalitas suatu “teologi” baru yang menghasilkan
kebudayaan matematis, kalkulatif, monolitik, dan kering batin.
Menurut Yasraf Amir Piliang
postmodernisme adalah gerakan kebudayaan pada umumnya yang bercirikan
penentangan terhadap rasionalisme, totalilianisme, dan universalisme serta
kecenderungan kepada arah penghargaan akan keanekaragaman, pluralitas,
kelimpahruahan, dan fragmentasi dengan menerima kontradiksi, banalitas, dan
ironi di dalamnya. Singkat kata
postmodernisme merupakan segala bentuk refleksi kritis atas segala
paradigma-paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya.
Ajaran
Pokok
Secara sederhana ajaran pokok
postmodernisme terdiri dari 5 yaitu:
- Pertama, menolak
universalitas.
- Kedua, menolak ideology.
- Ketiga, menolak obyektivikasi.
- Keempat, mengkritik semua
jenis sumber pengetahuan.
- Kelima, menolak metodologi
yang tetap dan pasti.
Karakteristik
Mengutip Lyotard, Ahmed, mengatakan ciri-ciri
postmodernisme adalah memiliki keraguan terhadap metanaratif. Cara yang paling
sederhana mengenal postmodernisme adalah mengetahui ciri-cirinya.
Menurut Burhan Bungin beberapa ciri masyarakat postmodernisme
yaitu :
- Pertama, memiliki pola hidup
nomaden.
- Kedua, secara struktur mereka
berada pada titik nadir.
- Ketiga, lebih suka menghargai
privasi sehingga memunculkan sikap aneh-aneh dan unik.
- Keempat, kehidupan yang bebas
membuat masyarakat postmodernisme menjadi sekuler dan liberal.
- Kelima, pemahaman yang bebas
pula menyebabkan mereka cenderung
mengadakan gerakan back to nature,
back to village,back to religi, dan sebagainya.
Tokoh
- Jean Francois
Lyotard (10 Agustus 1924 - 21 April 1998).
Lyotard
dijadikan acuan dalam mendalami filsafat postmodernisme. Inti gagasan Lyotard
adalah runtuhnya narasi-narasi besar yang selama ini diusung kaum modernisme. Namun menurut Habermas, pemikiran Lyotard
memiliki kelemahan mendasar,Yakni dalam membuka atau menilai apapun kita harus
bersandar pada satu standar penilaian yang akan menentukan benar/salah,
baik/buruk.
- Jacques Derrida
(15 Juli 1930 - 9 Oktober 2004).
Gagasan
pokok Derrida adalah dekonstruksi.
Dimana dekonstruksi
adalah strategi untuk memeriksa struktur-struktur yang terbentuk dalam
paradigma modernisme yang senantiasa dimapankan batas-batasnya dan ditunggalkan
pengertiannya. Derrida adalah pemikir postmodernisme yang dianggap Habermas
sangat dipengaruhi oleh pemikiran irasionalitas Nietzsche dan Heidegger.
- Michael Foucault
(15 Oktober 1926 - 25 Juni 1984).
Gagasan
dasar Foucault adalah tentang hubungan pengetahuan dan kekuasaan. Baginya,
kekuasaan dan pengetahuan ibarat dua sisi mata uang yang sama (two sides of the same coin). Tidak ada pengetahuan tanpa kekuasaan vice versa.
- Jean Baudrillard
(27 Juli 1929 - 6 Maret 2007).
Berbeda
dengan Lyotard, Derrida, dan Foucault
yang bermain dalam ranah epistemology, Jean Baudrillard mengkaji dalam dimensi
postmodernisme yang nyata, yaitu kebudayaan. Dari kajian tentang kebudayaan kontemporer inilah gagasan
simulasi dan hyperreality muncul. Bisa diartikan bahawasan nya Baudrillard
berharap masyarakat tidak kehilangan daya nalarnya untuk bersikap kritis
terhadap media massa yang memunculkan berbagai konnsep yang semu termasuk
mkebenaran dan agama.
- Cultural Studies
Communication
is founding of our culture.
Membutuhkan kerja keras, kerja cerdas,
dan kerja ikhlas untuk menyusun all about cultural studies dalam sebuah ranah
yang mudah dipahami.Cultural studies dianggap disiplin ilmu yang mementingkan
sensasi, menerobos wilayah kajian ilmu lain, antimetode, dan ultrasubjektif.
Kegalauan
Sematik
Tokoh awal cultural studies, Raymond
Williams mendefinisikan budaya melalui pendekatan universal yang mengacu pada
makna bersama yang terpusat pada aktivitas sehari-hari: nilai, material,
simbolis, dan norma. Kebudayaan adalah pengalaman dalam hidup sehari-hari yang
diwarnai beragam teks, praktik, dan makna.
John fiske
memberikan batasan budaya sebagai sebuah proses pemahaman bukan hanya memahami
alam atau realitas eksternal melainkan juga sistem sosial yang merupakan bagian
dari identitas sosial sekaligus kegiatan keseharian orang-orang dalam sistem
tersebut. Inilah yang dikatakan sebagai komunikasi tanpa melibatkan kebudayan dari jenis apapun akan
mati. Konsenkuensinya studi komunikasi melibatkan studi kebudayaan yang
dengannya ia terintegrasi. Bahwa mengalihkan atau melepaskan studi komunikasi
dari konteks budaya dan mengabaikan realitas ketidaksetaraan distribusi
kekuatan dalam masyarakat, telah melemahkan bidang studi ini dan membuatnya
semakin tidak relevan secara teoretis.
Sejarah
Cultural studies pertama kali muncul di
Birmingham, Inggris melalui Birmingham Centre for Contemporary Cultural Studies
sekitar 1950an. Perintisnya adalah Richard Hoggart dan Raymond Williams. Namun,
cultural studies menemukan kejayaannya di tangan Stuart Hall. Sebagai
perbandingan tentang sejarah kelahiran culture studies lain dari Richard
West-Lynn H. Turner.
“Virus” ini menyebar keberbagai
daratan Eropa. Di Perancis, kelompok yang terlibat bergabung dalam majalah Tel
Quel yang didirikan Phillipe Sollers pada tahun 1960 – 1982. Majalah Tel Quel
mencoba mengembangkan sebuah pendekatan dengan menggabungkan unsur-unsur
marxis, semiotik, dan psikoanalisis. Di Jerman, cultural studies menapaki jalan
yang dirintis sosiolog Marx Weber. Sedangkan di Italia tapak cultural studies
ditemukan dalam berbagai tulisan Umberto Eco.
Definisi
Cultural
studies merupakan kritik atas definisi budaya yang mengarah pada “the complex everyday world we all ecounter
and through which all move. Kita dapat menemukan dua batasan yang dapat
memberikan penjelasan tentang konsep ini. Pertama,
adalah ide umum di mana masyarakat atau kelompok memahami ideologinya, atau
cara-cara kolektif yang digunakan suatu kelompok untuk memahami pengalamannya. Kedua, budaya dimengerti sebagai praktik-praktik
atau keseluruhan cara hidup suatu kelompok apa yang dilakukan individu secara
material dari hari ke hari.
Asumsi
Dasar
Semua asumsi dasar dalam kajian budaya
diwarnai oleh pemikiran marxis. Ada dua pengaruh penting dari marxisme terhadap
kajian budaya yang pertama, untuk
memahami makna kebudayaan. Kedua,
kajian budaya mengasumsikan bahwa masyarakat industri kapitalis merupakan
masyarakat yang terbagi-bagi secara tidak adil dikalangan etnik, gender,
generasi, dan kelas.
Secara singkat asumsi cultural
studies terdiri dari pertama, culture
pervades and invades all facets of human behavior. Kedua, people are part of a
his hierarchical of power.
Paradigma
Ciri utama
culture studies adalah menempatkan teori kritis sebagai analisis. Teoti
mencakup metode metedisiplin dan post-disciplinary. Nah si cultural studies ini
lahir dari ketidakpuasan terhadap paradigma pragmatis-positivistik yang sangat
kuantitatif karena berhubungan dekat dengan tradisi riset ilmu-ilmu kealaman.
Berarti metodologi penelitian dalam cultural studies adalah kualitatif dengan
paradigma post-postivisik atau paradigma kritis.
Tokoh
Kunci
Dalam
ilmu komunikasi, kita mengenal Claude Shannon, Norbert Wiener, Harold D.
Lasswell, Kurt Lewin, Carl Hovland, dan Paul F. Lazarsfeld sebagai perintis.
Ada juga Wilbur Schramm yang menginstitusionalkan ilmu komunikasi. Namun seseorang benama Hall lah disini yang lebih dominan
dalam menafsirkan audiens dipemahaman sebelumnya yang dianggap sangat lemah
atau bila tidak, audiens sebagai pihak yang otonom sekali.
BAB
III
KEMUNCULAN
JURNALISME BARU
- Jurnalisme dan Citizen Journalism
Jika ditelisik secara historis, citizen journalism merupakan gagasan
yang ditemukan Jay Rosen, Pew Research Center, dan Poynter Institute. J.D.
Lasica, memaparkan jurnalisme warga kedalam lima tipe, yaitu: pertama, situs
web berita atau informasi independen, situs berita partisipatoris murni, situs
media kolaboratif bentuk lain dari media
tipis, dan situs penyiaran pribadi.
Menurut Burn (News Blogs and Citijen Journalism) laporan warga memiliki tiga
kelebihan dibandingkan dengan berita media massa tradisional, yaitu:
- Pertama, laporan warga adalah
yang pernah melaporkan tentang kejadian dengan istilah di TKP (Tempat
Kejadian Perkara).
- Kedua, tulisan warga tentang
suatu peristiwa yang dipublikasikan menjadi sebagai bacaan alternatif bagi
masyarakat dari bacaan yang disajikan media tradisional.
- Ketiga, jurnalisme warga bisa
diakses 24 jam sehari dan tujuh hari satu minggu.
Dengan adanya
citizen journalism ini semua orang bisa membaca dan menginterperstasikan secara
jernih, tidak seperti yang berasal dari media tradisional, penuh dengan intrik,
ideologi, dan kepentingan.
Kooptasi media
Sekali lagi,
komunikator pada komunikasi massa tidak mau kehi;angan kapital, pengaruh, dan penghasilan
dalam mentransfer pesan komunikasi. Dengan kekuasaan media juga tetap
menghegemoni dan kooptif terhadap benak publik. Alih-alih menyediakan forum
berbagi, sikap kritis dan yang membela kepentingan diluar agenda setting mereka
akan diberangus. Tentu saja dibalik semua itu, kooptasi medi tadisional banyak
juga tulisan warga yang menyengat dan mengingatkan masyarakat tentang informasi
banyak hal. Ke depan, jika media tradisional tidak mengantisipasinya dengan
tulisan yang dibutuhkan warga, mereka bersiap gulung tikar.
- Jurnalisme dan Ideologi
Ideologi, kata Raymond Williams
seperti dikutip John Fiske digunakan dalam tiga perangkat yakni: Pertama, sistem kenyakinan yang menandai
kelas tertentu. Kedua, cara memahami
dan mengevaluasi segala benda dan gagasan yang membentuk lingkaran sosial. Ketiga, menyodorkan, usulan, metode,
pendekatan, dan ideal untuk mengubah status quo yang tidak memuaskan. Sebagai
implikasinya ideologi, kata Eriyanto, memiliki 2 hal, yakni, ideologi secara inheren bersifat
sosial dan tidak hanya digunakan sebagai fungsi koordinatif dan kohesif, tetapi
juga membentuk identitas kelompok sosial tersebut yang membedakan dengan
kelompok lain.
- Jurnalisme dan Konvergensi Media
Konvergensi adalah perubahan
teknologi, industri,
budaya, dan sosial dalam lingkaran media termasuk didalamnya budaya kita.
Beberapa gagasan mendasar dari konvergensi antara lain konten media mengalir ke
beberapa platform media yang berbeda. Namun menurut Yasraf Amir Piliang,
teknologi realtime memerangkap setiap orang dalam tuntutan akan hasil yang
segera dengan mengabaikan proses.
Dengan kata lain konvergensi ini tidak menyebabkan media lama menjadi punah
melainkan salah satu bentuk perubahan yang diibaratkan manjadi dewa penyelamat.
Jurnalistik
Interpretatif
Model jurnalistik interpretatif ini
banyak dikembangkan dimedia cetak, surat kabar, khususnya. Strategi
interpretasi ini merupakan cara untuk berbeda dengan berita online yang
terlebih dahulu hadir. Artinya, beritanya sama tetapi interpretasinya berbeda.
Model jurnalistik interpretative
sudah tidak menggunakan pola piramida terbalik dalam menyajikan berita dan
konstruksi 6W + 1H (What, Who, Why, Where, When, What Next dan (How). Makanya
polanya bukan 6W +1H, tetapi matriks 6W +1H (Dijelaskan dalam sub-bab
jurnalisme dan pencarian core meaning).
- Jurnalisme dan
Krisis Berita
Yang tersisa dari berita dalam era
internet adalah medan yang sudah dikuasai dengan baik dan pertempuran menangguk
untung dan kompetisi isi berita yang akan terus berlangsung pada masa
mendatang. Justru, kabar terbaru dunia akan terus-menerus datang dari media
sosial seperti Fb, Twitter; jejaring terbuka yang memudahkan warga berbagi
informasi secara langsung, luas, dan dalam paket yang mudah diakses.
- Jurnalisme dan
Media Baru
Menurut Jurgen Habermas (1989) dalam
Transformasi Struktual Ruang Publik,
terjadi berbagai pergeseran sejarah dalam jurnalisme: perdagangan berita yang
dikembangkan dari sistem korespondensi pribadi dan untuk penerbit lama.
Kemudian ia dikumpulkan dan diorganisir bernama berita untuk keuntungan
sederhana.
Namun setelah
pendapatan iklan turun pada koran disaat bersama situs berita online melaporkan
jumlah pengunjung, dengan situs online. Itu tidak datang sebagai kejutan teori
pembicaraan tentang krisis yang mendalam dalam jurnalisme, krisis di mana media
baru terlibat langsung.
Krisis
Jurnalistik
Gitlin menunjukkan kondisi krisis
jurnalisme ini dengan mengidentifikasi 5 indikator yaitu:
- Jatuhnya sirkulasi.
- Jatuhnya pendapatan
advertising.
- Difusi perhatian.
- Krisis yang berwenang.
- Ketidakmampuan atau keengganan
jurnalisme mempertanyakan struktur kekuasaan semua berkontribusi untuk
membawa krisis yang mendalam jurnalisme.
Waktu
dan Jurnalisme
Castells (2000) membahas tentang cara
dimana media baru mengubah konsepsi tentang waktu. Ia mengembangkan gagasan
waktu abadi, sebagai cirri dari masyarakat jaringan. Waktu adalah abadi justru
karena tidak bisa lagi dibagi, diukur, dan terkotak kedalam slot tertentu.
Dalam masyarakat jaringan, waktu sedang berlangsung, terus menerus sebagai
ritme adalah 24/7.
Dengan
demikian, siklus berita tradisional diperbolehkan untuk beberapa penelitian,
pemilihan dan pengolahan berita, irama terus menerus waktu abadi menyebabkan
untuk update konstan dengan kecepatan yang harus didahulukan.
Internet dan jurnalisme
Hubungan
antara internet dan jurnalisme pasti tampaknya menjadi suatu bermasalah. Dimana
internet menampilkan sebagai katalis jika bukan penyebab yang sangat krisis
semua karena munculnya media baru. Pada saat bersamaan, internet tampaknya
telah memasuki hubungan langsung antara orang dan berita, serta antara manusia
dan politik. Jika dilihat dari pemetaan perubahan jurnalistik terdapat 3
tingkat perbedaan. Yaitu tingkat
organisasi media, tingkat isi berita, dan tingkat masyarakat.
- Jurnalisme
dan Pencarian Core Mining
Adapun langkah yang harus ditempuh oleh jurnalis untuk
menghasikan makna inti, yaitu
- Wartawan harus mengerti isu yang ingin ditulis sebelum menulis berita
atau apa yang dibicakan narasumber
- Membuat kepala berita atau intro artikel yang memikat dan bisa jadi
pengantar untuk pembaca supaya tertarik membaca lebih lanjut
- Membuat skala
- Memperluas cerita
- Memberi kutipan yang menarik
- Memberikan latar belakang darimana awal masalah atau apa perkembangan
sebelumnya
- Memberi kuliah singkat dengan menerangkan sisi ilmiah
- Memastikan antarparagraf saling berkesinambungan
- Memposisikan kita sebagai pembaca
- Memastikan penyebutan angka tidak menunjukan makna apapun
- Menulis pada tataran yang teknis buakan menulis prinsip-prinsip umum
yang normatif dan semua koran sama
- Memastikan ada core meaning
- Cover all sides bukan cover both sides
- Membaca kembaliu tulisan yang telah selesai
Langkah ini
dilakukan agar tulisan yang kita sampaikan ke masyarakat harus bisa dipastikan
menghasilakan makna inti (core meaning).
- Jurnalisme dan Pertukaran Makna
Berita adalah tulisan, tayangan,
atau siaran tentang fakta dari satu peristiwa atau kejadian yang dimuat atau
disiarkan oleh media massa dengan menggunakan konstruksi 5W +1H ( What, Why, Who, Where, dan When serta
How). Makna terjadi karena ada tanda. Ada tiga jenis makna dalam sebuah proses
komunikasi yaitu : makna si penutur, makna bagi si
pendengar, dan makna tanda (sign meaning) yang melekat pada tanda itu sendiri. Dengan demikian, makna timbul karena ada interaksi
antara satu orang atau lebih dalam konteks tertentu melalui berbagai medium
contah : berita yang ada pada media cetak.
- Jurnalisme Interpretatif
Seperti dikemukakan dalam beberapa
tulisan sebelumnya, kehadiran internet sebagai pemicu munculnya situs berita
(jurnalistik online) telah menggeser model pemberitaan di media cetak,
khususnya surat kabar.munculah
jurnalisme interpretatif yaitu sebuah model jurnalistik yang berbasis
penafsiran terhadap fakta yang terdapatdalam sebuah peristiwa.
- Jurnalisme, Agama, dan Pertanggungjawaban
Agama memiliki dua peran mulia,
privat dan publik. Dibutuhkan garis pemisah yang tegas dari dua wilayah tersebut.
Pemisahan ini menjadikan negara
tidak salah peran. Agama tidak
boleh absen dalam penuntasan kemiskinan, pemberantasan korupsi, dan
pembongkaran mafia. Dalam ruang publik, agama harus menggunakan bahasa publik.
Salah satu urusaan publik adalah dunia jurnalisme. Dengan kata lain agama harus
mewarnai gerak jurnalisme dinegeri ini. Jurnalisme dan agama di negeri ini
selain secara sosiologis-antropologis memiliki akar yang kuat, pun memiliki
doktrin di setiap agama.
Pertanggungjawaban
Adalah
duambahnya jurnalistik, Bill Kovach
dan Tom Rosentiels, yang mendeklarasikan tiga elemen utama jurnalisme adalah pada pencarian
kebenaran,loyalitas utama
jurnalisme adalah pada warga negara, dan disiplin dalam melakukan verifikasi
fakta.
.
Ada lima item indikator dalam verifikasi fakta, yaitu: wartawan jangan menambah atau
mengarang apa pun, jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa, maupun
pendengar, bersikaplah setransparan dan sejujur mungkin tentang metode dan
motivasi, bersandarlah terutama pada reportase
sendiri, dan bersikaplah rendah hati.
Pers pancasila
Di indonesia menganut teori pers pancasila. Dimana
memiliki tiga ciri khas yaitu bersandar pada falsafah dasar sebagaimana negara
pancasila, teori pancasila merupakan perangkuman dalam enam teori yang ada, dan
dalam teori pers pancasila selain pertanggungjawaban kepada nilai-nilai dasar
kemanusiaan tetapi juga pertanggungjawaban terhadap Tuhan. Ini menegaskan bahwa
pers tidak hanya bertanggung jawab untuk menaati kode etik jurnalistik, tetapi
juga harus memihak pada nilai agama yang dianutnya. SEKIAN PENJELASAN MENGENAI ISI YANG TERDAPAT DIBUKU KERUNTUHAN JURNALISME
SEMOGA BERMANFAAT ^^
By : Yuliana Choerul Reza
NIM : 1571500899
Kls : YJ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar