Senin, 19 Oktober 2015



BAB I
INDIKATOR KERUNTUHAN JURNALISME
          A.  Jurnalisme Bias
Kunci utama keberhasilan kepemimpinan−−dalam bentuk dan level apapun− adalah perbuatan bukan sejumlah orasi, segepok konsep, atau segenap perintah. Selain itu memiliki kepemimpinan yang transformatif. Secara singkat kepemimpinan transformatif adalah kepemimpinan yang mentraformasikan sikap, gagasan, dan perilaku; kepemimpinan yang memberi rakyta atu bawahannya inspirasi. Yang dicontohkan dalam buku ini adalah jokowi yang menerapkan gaya kepemimpina seperti itu. Hal ini terbukti jokowi menjadi oase ditengah-tengah kelelahan masyarakat bawah. Dan ini lah yang dikatakan journalism bias dimana juga tidak terpengaruh oleh wacana lisan dan omong besar seperti pejabat yang lain.
TAK KRITIS
Menurut teori jurnalistik, unik dan memiliki keluarbiasaan merupakan dua poin dari nilai berita. Dalam buku ini mengambil contoh dari kebijakan seorang Jokowi dimana semua mengatakan setuju. Padahal dari sudut jurnalistik penderitaan, deskripsi, atau statement dari objek/penderita jauh lebih menarik daripada mengambil kebijakan.  Dalam konteks ini bius keunikan dan kehebatan menimbulkan bias media. Bias dalam jurnalisme berarti ada pengaruh kepentingan yang menjadi latar belakang peliputan seseorang. Dan itu dapat menimbulkan media akan besikap tidak adil kemudian meninggalkan karakter kekritisnya dan juga lupa fungsi utamanya sebagai kontrol terhadap kekuasaan.
  1. Jurnalisme dan ‘Amplop Besar’
Percepatan dan kecepatan sudah merasuk ke semua aspek kehidupan manusia, termasuk berita dan jurnalisme. Ini menyeret jurnalisme ke dalam kompetisi global dan kapitalisme. Berita sebagai unsur atau pilar pokok atau inti dari jurnalisme menjadi komoditas. Ia hanya sebagai alat untuk menghasilkan keuangan. Bukan lagi sebagai memproduksi wacana yang mencerahkan kehidupan. Disini wartawan harus terus berproduksi karena tuntutan pemodal. Tidak dilihat dari segi bagus tidaknya, fakta atau manipulasi informasi yang terpenting laku dan menghasilkan laba. Inilah yang penulis sebut dengan amplop besar.
  1. Jurnalisme dan budaya copy paste
Dalam konteks kerja sama dan saling berbagi informasi di lapangan sesama wartawan tidak ada yang salah. Yang menyimpang adalah menulis berita dengan tanpa usaha kecuali copy paste dari tulisan wartawan lain dengan hanya mengubah beberapa kata saja.”katanya,” diganti ujarnya dan lain sebagainya. Budaya seperti ini secara tidak langsung dipengaruhi oleh percepatan dan kecepatan teknologi komunikasi dan informasi ditambah kini ada yang dinamakan internet. Dengan demikian berita yang diambil media online atau situs berita langsung diunggah disitus tanpa peduli dengan validitas.berita kemudaian berkembang ke arah over-production dan menghasilkan over-information disisi lain wartawan menjadi malas.



  1.  Jurnalisme pembuat heboh
Sebuah peristiwa atau sebuah realitas dibuat karena ia terorganis, sistematik, dan komprehensif dengan setting sosial yang ada. Dan jurnalisme itu bisa dikatakan salah satu faktor yang menyebabkan sebuah peristiwa bisa banyak orang ketahui.
Kontuksi Sosial Media Massa
Salah satu pembentukan kontruksi realitas adalah media massa. Menurut Burhan Bungin terdapat empat tahapan : penyiapan materi konstruksi , sebaran kontruksi, pembentukan kontruksi realitas, dan konfirmasi. Dengan demikian, berita sebagai hasil kontruksi media massa terhadap suatu peristiwa─yang dijadikan acuan khalayak──bukan realitas yang sebenarnya.
Kontruksi Berita
Sebuah berita disuatu media merupakan representasi dari pikiran dan sikap penulis dan asisten redaktur serta editor. Minimal segala latar belakang budaya, pergaulan, dan pendidikan wartawan sangat mempengaruhi bagaimaan fakta dikonstruksi dalam sebuah berita. Fakta yang hanya ditulis apa adanya akan keringnya gaya dan tidak nyaman dibaca. Gaya penyajian ini pula memuat berbagai warna. Demikian  mulai dari mencari, menemukan, dan mengkontruksi fakta, wartawan sudah dikontruksi dengan berbagai hal yang tidak netral dan independen. Kemudian kebijakan redaksi pulah lah yang menentukan  sebuah berita diambil dari sudut pandang seperti apa.
Era baru kontruksi media
Kemunculan media akses yang berbasis internet mempertajam efisen media. Internet memiliki kemampuan untuk memperkembangkan bentuk relasi sosial. Dari kecepatan akses dan solidaritas jaringan inilah muncul gerakan yang terduga.  Internet bahkan bisa menjadi media yang mengkontruksi gerakan massa dan kekuatan civil baru. Dalam konteks ini, kehadiran dan penggunaan internet yang sangat massif dan mengglobal, penulis memandang sebagai datang era baru.
  1.  Jurnalisme Tanpa Konfirmasi
Kalimat sampai berita ini diturunkan yang bersangkutan, telepon tersangka tidak bisa dihubungi, pesan singkat tidak dibalas, dan email dari redaksi belum dijawab. Kalimat tersebut dianggap media hari ini sebagai konfirmasi. Padahal jelas itu bukan konfirmasi, tetapi usaha untuk konfirmasi. Anehnya, kalimat diatas menjadi kebenaran, doktrin, dan judgement sebagai konfirmasi. Dalam perkembangannya berita bukan lagi bersandar pada cover both sides, tetepi sudah cover all sides. Artinya, sebuah berita yang dimuat media mau tidak mau, suka atau tidak suka harus ada konfirmasi.
Berita Tanpa Verifikasi
Apa itu verifikasi ? menurut Konvach dan Rosentiels ada lima item indikator dalam verifikasi fakta, yaitu :
1.      Wartawan jangan menambah atau mengarang apa pun,
2.      Jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsah, maupun pendengar, besikaplah transparan
3.      Sejujur mungkin tentang metode dan motivasi
4.      Bersandarlah terutama pada repotase sendiri
5.      Bersikaplah rendah hati
Pertanyaannya apakah media melakukan lima item tersebut ? Bila kita lihat dijaman hari ini masih ada televisi yang menyiarkan berita tanpa verifikasi fakta. Akibatnya, berita yang diterima masyarakat bukan realitas yang sebenarnya. Melainkan berita yang menjadi realitas bayangan dan tidak memiliki jiwa. Yang lebih mengerikan adalah media menyadari hal ini tetapi mereka terus melakukan berulang kali.
Filter Konseptual
Menurut teori Aubre Fisher, manusia bisa menyaring informasi yang diterimanya yang disodorkan oleh media. Pesan yang diberikan tidak mempengaruhi sikap dan khalayak. Sebab individu memiliki konseptual untuk menyaring informasi tersebut. Filter tersebut berasal dari hasil interaksi dengan sesama individu lain dalam bentuk pengalaman yang dimilikinya.
  1.  Jurnalisme, Adakah Etika ?
Etika jurnalistik──karena hasil kreasi manusia──masih perlu diperdebatkan, termasuk keberpihakan terhadap kandidat tertentu dalam kontestasi politik. Bahkan, etika dalam beberapa perspektif tergantung yang mempergunakan. Misalnya jurnalismeonline secara kasat mata telah mengubah tradisi jurnalisme tradisional dimana jurnalismeonline ini mengorbankan akurasi, validasi, verifikasi, dan kelengkapan suatu berita demi mengejar kecepatan dan kesegaran. Disisi lain, secara teoritis etika jurnalistik bersifat global, meski implementasinya di media tradisional menyesuaikan dengan kondisi lokal. Pertanyaannya, apakah internet yang mengglobal bisa dipilih skala lokal dan internasional ? secara filosofis, jurnalisme harus tetap berpijak pada prinsip kebenaran, independensi, check and balance, cover all sides, verifikasi fakta, dan keberpihakan pada yang lemah. Etika berfungsi untuk menjamin media memproduksi jurnalisme yang berkualitas dan publik pun mendapat informasi yang sehat dan mencerahkan.

BAB II
PENYEBAB KERUNTUHAN JURNALISME
  1.  Postmodernisme
Alam pikiran postmodern mengutuk apa pun, tetapi tidak mengusulkan apa pun.
Istilah postmodernisme pertama kali diapungkan oleh Frederico di Onis pada tahun 1930-an dalam karyanya Antologia de Ia Poesia Espanola a Hispanoamericana.Ia menyebutnya sebagai kritik terhadap sastra di Amerika Latin dan Prancis. Sejarahwan kondang Arnold Toynbee menggunakan istilah ini dalam A Brief History. Menurutnya, fase postmodernisme ditandai dengan gejolak, perang, revolusi yang menimbulkan anarki, runtuhnya rasionalitas, dan pencerahan.
Masyarakat Postmodernisme adalah masyarakat yang secara finansial, pengetahuan, relasi, dan semua prasyarat masyarakat modern terlampaui. Artinya gejala postmodernisme muncul diberbagai belahan dunia jika masyarakatnya sudah memiliki keterpenuhan material, namun ia kering dari sudut kekayaan batin seperti dikemukakan oleh Burhan Bungin.
Kemunculan gerakan seperti  new age ,child of god, dan merebaknya sekte spiritualitas merupakan salah satu indikasi kemuakan terhadap dunia materi yang diagung-agungkan modernisme.Singkatnya latar belakang kemunculan postmodernisme dipicu modernisme yang menyimpan kebobrokan akut, dimana keburukkan tersebut terbongkar dan disebarluaskan oleh media.
Gejala Postmodernisme
Postmodernisme adalah gelombang kritik paling mutakhir terhadap modernisme yang menjadikan sains, rasionalitas suatu “teologi” baru yang menghasilkan kebudayaan matematis, kalkulatif, monolitik, dan kering batin.
Menurut Yasraf Amir Piliang postmodernisme adalah gerakan kebudayaan pada umumnya yang bercirikan penentangan terhadap rasionalisme, totalilianisme, dan universalisme serta kecenderungan kepada arah penghargaan akan keanekaragaman, pluralitas, kelimpahruahan, dan fragmentasi dengan menerima kontradiksi, banalitas, dan ironi di dalamnya. Singkat kata postmodernisme merupakan segala bentuk refleksi kritis atas segala paradigma-paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya. 
Ajaran Pokok
            Secara sederhana ajaran pokok postmodernisme terdiri dari  5 yaitu:
  • Pertama, menolak universalitas.
  • Kedua, menolak ideology.
  • Ketiga, menolak obyektivikasi.
  • Keempat, mengkritik semua jenis sumber pengetahuan.
  • Kelima, menolak metodologi yang tetap dan pasti.
Karakteristik
Mengutip Lyotard, Ahmed, mengatakan ciri-ciri postmodernisme adalah memiliki keraguan terhadap metanaratif. Cara yang paling sederhana mengenal postmodernisme adalah mengetahui ciri-cirinya.
            Menurut  Burhan Bungin beberapa ciri masyarakat postmodernisme yaitu :
  • Pertama, memiliki pola hidup nomaden.
  • Kedua, secara struktur mereka berada pada titik nadir.
  • Ketiga, lebih suka menghargai privasi sehingga memunculkan sikap aneh-aneh dan unik.
  • Keempat, kehidupan yang bebas membuat masyarakat postmodernisme menjadi sekuler dan liberal.
  • Kelima, pemahaman yang bebas pula menyebabkan mereka cenderung mengadakan gerakan back to nature, back to village,back to religi, dan sebagainya.
Tokoh
  1. Jean Francois Lyotard (10 Agustus 1924 - 21 April 1998).
Lyotard dijadikan acuan dalam mendalami filsafat postmodernisme. Inti gagasan Lyotard adalah runtuhnya narasi-narasi besar yang selama ini diusung kaum modernisme. Namun menurut Habermas, pemikiran Lyotard memiliki kelemahan mendasar,Yakni dalam membuka atau menilai apapun kita harus bersandar pada satu standar penilaian yang akan menentukan benar/salah, baik/buruk.
  1. Jacques Derrida (15 Juli 1930 - 9 Oktober 2004).
Gagasan pokok Derrida adalah dekonstruksi. Dimana dekonstruksi adalah strategi untuk memeriksa struktur-struktur yang terbentuk dalam paradigma modernisme yang senantiasa dimapankan batas-batasnya dan ditunggalkan pengertiannya. Derrida adalah pemikir postmodernisme yang dianggap Habermas sangat dipengaruhi oleh pemikiran irasionalitas Nietzsche dan Heidegger.
  1. Michael Foucault (15 Oktober 1926 - 25 Juni 1984).
Gagasan dasar Foucault adalah tentang hubungan pengetahuan dan kekuasaan. Baginya, kekuasaan dan pengetahuan ibarat dua sisi mata uang yang sama (two sides of the same coin). Tidak ada pengetahuan tanpa kekuasaan vice versa.
  1. Jean Baudrillard (27 Juli 1929 - 6 Maret 2007).
Berbeda dengan Lyotard,  Derrida, dan Foucault yang bermain dalam ranah epistemology, Jean Baudrillard mengkaji dalam dimensi postmodernisme yang nyata, yaitu kebudayaan. Dari kajian tentang kebudayaan kontemporer inilah gagasan simulasi dan hyperreality muncul. Bisa diartikan bahawasan nya Baudrillard berharap masyarakat tidak kehilangan daya nalarnya untuk bersikap kritis terhadap media massa yang memunculkan berbagai konnsep yang semu termasuk mkebenaran dan agama.
  1.  Cultural Studies
Communication is founding of our culture.
Membutuhkan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas untuk menyusun all about cultural studies dalam sebuah ranah yang mudah dipahami.Cultural studies dianggap disiplin ilmu yang mementingkan sensasi, menerobos wilayah kajian ilmu lain, antimetode, dan ultrasubjektif.
Kegalauan Sematik
Tokoh awal cultural studies, Raymond Williams mendefinisikan budaya melalui pendekatan universal yang mengacu pada makna bersama yang terpusat pada aktivitas sehari-hari: nilai, material, simbolis, dan norma. Kebudayaan adalah pengalaman dalam hidup sehari-hari yang diwarnai beragam teks, praktik, dan makna.
John fiske memberikan batasan budaya sebagai sebuah proses pemahaman bukan hanya memahami alam atau realitas eksternal melainkan juga sistem sosial yang merupakan bagian dari identitas sosial sekaligus kegiatan keseharian orang-orang dalam sistem tersebut. Inilah yang dikatakan sebagai komunikasi tanpa  melibatkan kebudayan dari jenis apapun akan mati. Konsenkuensinya studi komunikasi melibatkan studi kebudayaan yang dengannya ia terintegrasi. Bahwa mengalihkan atau melepaskan studi komunikasi dari konteks budaya dan mengabaikan realitas ketidaksetaraan distribusi kekuatan dalam masyarakat, telah melemahkan bidang studi ini dan membuatnya semakin tidak relevan secara teoretis.
Sejarah                      
Cultural studies pertama kali muncul di Birmingham, Inggris melalui Birmingham Centre for Contemporary Cultural Studies sekitar 1950an. Perintisnya adalah Richard Hoggart dan Raymond Williams. Namun, cultural studies menemukan kejayaannya di tangan Stuart Hall. Sebagai perbandingan tentang sejarah kelahiran culture studies lain dari Richard West-Lynn H. Turner.
            “Virus” ini menyebar keberbagai daratan Eropa. Di Perancis, kelompok yang terlibat bergabung dalam majalah Tel Quel yang didirikan Phillipe Sollers pada tahun 1960 – 1982. Majalah Tel Quel mencoba mengembangkan sebuah pendekatan dengan menggabungkan unsur-unsur marxis, semiotik, dan psikoanalisis. Di Jerman, cultural studies menapaki jalan yang dirintis sosiolog Marx Weber. Sedangkan di Italia tapak cultural studies ditemukan dalam berbagai tulisan Umberto Eco.
Definisi                  
            Cultural studies merupakan kritik atas definisi budaya yang mengarah pada “the complex everyday world we all ecounter and through which all move. Kita dapat menemukan dua batasan yang dapat memberikan penjelasan tentang konsep ini. Pertama, adalah ide umum di mana masyarakat atau kelompok memahami ideologinya, atau cara-cara kolektif yang digunakan suatu kelompok untuk memahami pengalamannya. Kedua, budaya dimengerti sebagai praktik-praktik atau keseluruhan cara hidup suatu kelompok apa yang dilakukan individu secara material dari hari ke hari.
Asumsi Dasar
            Semua asumsi dasar dalam kajian budaya diwarnai oleh pemikiran marxis. Ada dua pengaruh penting dari marxisme terhadap kajian budaya yang pertama, untuk memahami makna kebudayaan. Kedua, kajian budaya mengasumsikan bahwa masyarakat industri kapitalis merupakan masyarakat yang terbagi-bagi secara tidak adil dikalangan etnik, gender, generasi, dan kelas.
            Secara singkat asumsi cultural studies terdiri dari pertama, culture pervades and invades all facets of human behavior. Kedua, people are part of a his hierarchical of power.
Paradigma
Ciri utama culture studies adalah menempatkan teori kritis sebagai analisis. Teoti mencakup metode metedisiplin dan post-disciplinary. Nah si cultural studies ini lahir dari ketidakpuasan terhadap paradigma pragmatis-positivistik yang sangat kuantitatif karena berhubungan dekat dengan tradisi riset ilmu-ilmu kealaman. Berarti metodologi penelitian dalam cultural studies adalah kualitatif dengan paradigma post-postivisik atau paradigma kritis.
Tokoh Kunci
            Dalam ilmu komunikasi, kita mengenal Claude Shannon, Norbert Wiener, Harold D. Lasswell, Kurt Lewin, Carl Hovland, dan Paul F. Lazarsfeld sebagai perintis. Ada juga Wilbur Schramm yang menginstitusionalkan ilmu komunikasi. Namun seseorang benama Hall lah disini yang lebih dominan dalam menafsirkan audiens dipemahaman sebelumnya yang dianggap sangat lemah atau bila tidak, audiens sebagai pihak yang otonom sekali.

BAB III
KEMUNCULAN JURNALISME BARU
  1.  Jurnalisme dan Citizen Journalism
            Jika ditelisik secara historis, citizen journalism merupakan gagasan yang ditemukan Jay Rosen, Pew Research Center, dan Poynter Institute. J.D. Lasica, memaparkan jurnalisme warga kedalam lima tipe, yaitu: pertama, situs web berita atau informasi independen, situs berita partisipatoris murni, situs media kolaboratif  bentuk lain dari media tipis, dan situs penyiaran pribadi.
            Menurut Burn (News Blogs and Citijen Journalism) laporan warga memiliki tiga kelebihan dibandingkan dengan berita media massa tradisional, yaitu:
  • Pertama, laporan warga adalah yang pernah melaporkan tentang kejadian dengan istilah di TKP (Tempat Kejadian Perkara).
  • Kedua, tulisan warga tentang suatu peristiwa yang dipublikasikan menjadi sebagai bacaan alternatif bagi masyarakat dari bacaan yang disajikan media tradisional.
  • Ketiga, jurnalisme warga bisa diakses 24 jam sehari dan tujuh hari satu minggu.
Dengan adanya citizen journalism ini semua orang bisa membaca dan menginterperstasikan secara jernih, tidak seperti yang berasal dari media tradisional, penuh dengan intrik, ideologi, dan kepentingan.
Kooptasi media
Sekali lagi, komunikator pada komunikasi massa tidak mau kehi;angan kapital, pengaruh, dan penghasilan dalam mentransfer pesan komunikasi. Dengan kekuasaan media juga tetap menghegemoni dan kooptif terhadap benak publik. Alih-alih menyediakan forum berbagi, sikap kritis dan yang membela kepentingan diluar agenda setting mereka akan diberangus. Tentu saja dibalik semua itu, kooptasi medi tadisional banyak juga tulisan warga yang menyengat dan mengingatkan masyarakat tentang informasi banyak hal. Ke depan, jika media tradisional tidak mengantisipasinya dengan tulisan yang dibutuhkan warga, mereka bersiap gulung tikar.    
  1.  Jurnalisme dan Ideologi
            Ideologi, kata Raymond Williams seperti dikutip John Fiske digunakan dalam tiga perangkat yakni: Pertama, sistem kenyakinan yang menandai kelas tertentu. Kedua, cara memahami dan mengevaluasi segala benda dan gagasan yang membentuk lingkaran sosial. Ketiga, menyodorkan, usulan, metode, pendekatan, dan ideal untuk mengubah status quo yang tidak memuaskan. Sebagai implikasinya ideologi, kata Eriyanto, memiliki 2 hal, yakni, ideologi secara inheren bersifat sosial dan tidak hanya digunakan sebagai fungsi koordinatif dan kohesif, tetapi juga membentuk identitas kelompok sosial tersebut yang membedakan dengan kelompok lain.
  1.  Jurnalisme dan Konvergensi Media
            Konvergensi adalah perubahan teknologi, industri, budaya, dan sosial dalam lingkaran media termasuk didalamnya budaya kita. Beberapa gagasan mendasar dari konvergensi antara lain konten media mengalir ke beberapa platform media yang berbeda. Namun menurut Yasraf Amir Piliang, teknologi realtime memerangkap setiap orang dalam tuntutan akan hasil yang segera dengan mengabaikan proses. Dengan kata lain konvergensi ini tidak menyebabkan media lama menjadi punah melainkan salah satu bentuk perubahan yang diibaratkan manjadi dewa penyelamat.
Jurnalistik Interpretatif
Model jurnalistik interpretatif ini banyak dikembangkan dimedia cetak, surat kabar, khususnya. Strategi interpretasi ini merupakan cara untuk berbeda dengan berita online yang terlebih dahulu hadir. Artinya, beritanya sama tetapi interpretasinya berbeda.
            Model jurnalistik interpretative sudah tidak menggunakan pola piramida terbalik dalam menyajikan berita dan konstruksi 6W + 1H (What, Who, Why, Where, When, What Next dan (How). Makanya polanya bukan 6W +1H, tetapi matriks 6W +1H (Dijelaskan dalam sub-bab jurnalisme dan pencarian core meaning).
  1.  Jurnalisme dan Krisis Berita
            Yang tersisa dari berita dalam era internet adalah medan yang sudah dikuasai dengan baik dan pertempuran menangguk untung dan kompetisi isi berita yang akan terus berlangsung pada masa mendatang. Justru, kabar terbaru dunia akan terus-menerus datang dari media sosial seperti Fb, Twitter; jejaring terbuka yang memudahkan warga berbagi informasi secara langsung, luas, dan dalam paket yang mudah diakses.
  1.  Jurnalisme dan Media Baru
            Menurut Jurgen Habermas (1989) dalam Transformasi Struktual Ruang Publik, terjadi berbagai pergeseran sejarah dalam jurnalisme: perdagangan berita yang dikembangkan dari sistem korespondensi pribadi dan untuk penerbit lama. Kemudian ia dikumpulkan dan diorganisir bernama berita untuk keuntungan sederhana.
Namun setelah pendapatan iklan turun pada koran disaat bersama situs berita online melaporkan jumlah pengunjung, dengan situs online. Itu tidak datang sebagai kejutan teori pembicaraan tentang krisis yang mendalam dalam jurnalisme, krisis di mana media baru terlibat langsung.
Krisis Jurnalistik       
            Gitlin menunjukkan kondisi krisis jurnalisme ini dengan mengidentifikasi 5 indikator yaitu:
  • Jatuhnya sirkulasi.
  • Jatuhnya pendapatan advertising.
  • Difusi perhatian.
  • Krisis yang berwenang.
  • Ketidakmampuan atau keengganan jurnalisme mempertanyakan struktur kekuasaan semua berkontribusi untuk membawa krisis yang mendalam jurnalisme.
Waktu dan Jurnalisme
Castells (2000) membahas tentang cara dimana media baru mengubah konsepsi tentang waktu. Ia mengembangkan gagasan waktu abadi, sebagai cirri dari masyarakat jaringan. Waktu adalah abadi justru karena tidak bisa lagi dibagi, diukur, dan terkotak kedalam slot tertentu. Dalam masyarakat jaringan, waktu sedang berlangsung, terus menerus sebagai ritme adalah 24/7.
Dengan demikian, siklus berita tradisional diperbolehkan untuk beberapa penelitian, pemilihan dan pengolahan berita, irama terus menerus waktu abadi menyebabkan untuk update konstan dengan kecepatan yang harus didahulukan.
Internet dan jurnalisme
Hubungan antara internet dan jurnalisme pasti tampaknya menjadi suatu bermasalah. Dimana internet menampilkan sebagai katalis jika bukan penyebab yang sangat krisis semua karena munculnya media baru. Pada saat bersamaan, internet tampaknya telah memasuki hubungan langsung antara orang dan berita, serta antara manusia dan politik. Jika dilihat dari pemetaan perubahan jurnalistik terdapat 3 tingkat perbedaan. Yaitu  tingkat organisasi media, tingkat isi berita, dan tingkat masyarakat.
  1. Jurnalisme dan Pencarian Core Mining
            Adapun langkah yang harus ditempuh oleh jurnalis untuk menghasikan makna inti, yaitu
  • Wartawan harus mengerti isu yang ingin ditulis sebelum menulis berita atau apa yang dibicakan narasumber
  • Membuat kepala berita atau intro artikel yang memikat dan bisa jadi pengantar untuk pembaca supaya tertarik membaca lebih lanjut
  • Membuat skala
  • Memperluas cerita
  • Memberi kutipan yang menarik
  • Memberikan latar belakang darimana awal masalah atau apa perkembangan sebelumnya
  • Memberi kuliah singkat dengan menerangkan sisi ilmiah
  • Memastikan antarparagraf saling berkesinambungan
  • Memposisikan kita sebagai pembaca
  • Memastikan penyebutan angka tidak menunjukan makna apapun
  • Menulis pada tataran yang teknis buakan menulis prinsip-prinsip umum yang normatif dan semua koran sama 
  • Memastikan ada core meaning
  • Cover all sides bukan cover both sides
  • Membaca kembaliu tulisan yang telah selesai
Langkah ini dilakukan agar tulisan yang kita sampaikan ke masyarakat harus bisa dipastikan menghasilakan makna inti (core meaning).
  1.  Jurnalisme dan Pertukaran Makna
            Berita adalah tulisan, tayangan, atau siaran tentang fakta dari satu peristiwa atau kejadian yang dimuat atau disiarkan oleh media massa dengan menggunakan konstruksi 5W +1H ( What, Why, Who, Where, dan When serta How). Makna terjadi karena ada tanda. Ada tiga jenis makna dalam sebuah proses komunikasi yaitu : makna si penutur, makna bagi si pendengar, dan makna tanda (sign meaning) yang melekat pada tanda itu sendiri. Dengan demikian, makna timbul karena ada interaksi antara satu orang atau lebih dalam konteks tertentu melalui berbagai medium contah : berita yang ada pada media cetak.

  1.  Jurnalisme Interpretatif
            Seperti dikemukakan dalam beberapa tulisan sebelumnya, kehadiran internet sebagai pemicu munculnya situs berita (jurnalistik online) telah menggeser model pemberitaan di media cetak, khususnya surat kabar.munculah jurnalisme interpretatif yaitu sebuah model jurnalistik yang berbasis penafsiran terhadap fakta yang terdapatdalam sebuah peristiwa.
  1.  Jurnalisme, Agama, dan Pertanggungjawaban
            Agama memiliki dua peran mulia, privat dan publik. Dibutuhkan garis pemisah yang tegas dari dua wilayah tersebut. Pemisahan ini menjadikan negara tidak salah peran. Agama tidak boleh absen dalam penuntasan kemiskinan, pemberantasan korupsi, dan pembongkaran mafia. Dalam ruang publik, agama harus menggunakan bahasa publik. Salah satu urusaan publik adalah dunia jurnalisme. Dengan kata lain agama harus mewarnai gerak jurnalisme dinegeri ini. Jurnalisme dan agama di negeri ini selain secara sosiologis-antropologis memiliki akar yang kuat, pun memiliki doktrin di setiap agama.  
Pertanggungjawaban
            Adalah duambahnya jurnalistik, Bill Kovach dan Tom Rosentiels, yang mendeklarasikan tiga elemen utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran,loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga negara, dan disiplin dalam melakukan verifikasi fakta.
. Ada lima item indikator dalam verifikasi fakta, yaitu: wartawan jangan menambah atau mengarang apa pun, jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa, maupun pendengar, bersikaplah setransparan dan sejujur mungkin tentang metode dan motivasi, bersandarlah terutama pada  reportase sendiri, dan bersikaplah rendah hati.
Pers pancasila
Di indonesia menganut teori pers pancasila. Dimana memiliki tiga ciri khas yaitu bersandar pada falsafah dasar sebagaimana negara pancasila, teori pancasila merupakan perangkuman dalam enam teori yang ada, dan dalam teori pers pancasila selain pertanggungjawaban kepada nilai-nilai dasar kemanusiaan tetapi juga pertanggungjawaban terhadap Tuhan. Ini menegaskan bahwa pers tidak hanya bertanggung jawab untuk menaati kode etik jurnalistik, tetapi juga harus memihak pada nilai agama yang dianutnya. 


SEKIAN PENJELASAN MENGENAI ISI YANG TERDAPAT DIBUKU KERUNTUHAN JURNALISME 
SEMOGA BERMANFAAT ^^

By     : Yuliana Choerul Reza
NIM  : 1571500899
Kls    : YJ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar